Perjalanan Inspirasi Satu Hari Bersama Sandiaga Uno

Tidak usah bawa-bawa partai, tidak ada politik, tidak usah ribut-ribut.

Itu hal-hal penting yang ditekankan kepada saya saat diminta mengatur dan mempersiapkan kunjungan sahabat saya Sandiaga Uno ke Lombok, dengan agenda utamanya adalah mengunjungi dan bersilaturahim dengan pengungsi korban gempa di Lombok.

Koordinasi dan persiapan dilakukan hanya dalam tempo 16 jam, dan semua harus terencana dengan baik. Namun alhamdulillah, bantuan Allah memang tidak pernah putus apabila kita melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Misalnya harga-harga barang kebutuhan pengungsi yang sebelum-sebelumnya melangit, kembali ke harga normal saat tim berbelanja bahan-bahan bantuan. Begitu juga bantuan dari kawan-kawan saya yang baik dalam membantu terlaksananya urusan ini. Mulai dari penentuan titik-titik kunjungan, koordinasi dengan tokoh-tokoh, sampai belanja kebutuhan pengungsi, semua bisa terlaksana dengan cepat dan baik.

Hari Rabu, pagi tanggal 15 Agustus 2018 mas Sandiaga Uno dengan penerbangan kelas Ekonomi maskapai Garuda Indonesia, mendarat di Lombok International Airport.

Sekeluarnya mas Sandi di jalur publik, saya dan DR. Zulkieflimansyah langsung menyambut dan mengantarkannya ke kendaraan. Tiga unit mobil Innova yang saya siapkan sudah siap menyambut, tapi mas Sandi tidak juga langsung masuk ke mobil. Itu lantaran mas Sandi harus melayani masyarakat (terutama emak-emak) yang sudah berkerumun ingin melihat langsung dan berfoto bersama. Ramah sekali sahabat saya ini, pikir saya.

Saat sudah masuk ke mobil, mas Sandi bercerita tentang keinginan kuatnya untuk segera berkunjung ke Lombok sejak awal terjadinya musibah, namun selalu tertunda akibat tugas sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta dan mempersiapkan pencalonan sebagai Wakil Presiden RI. Namun demikian, begitu mendengar kabar tentang musibah gempa ini, mas Sandi memang langsung merespon cepat dengan mengatur persiapan bantuan.

Selama perjalanan, saya juga memperhatikan bahwa mas Sandi tidak pernah berhenti berdzikir. Ia mengisi diamnya dengan berdzikir mengingat Allah SWT. Jujur saja, saya sangat iri melihat sahabat saya ini dalam membiasakan dirinya untuk terus ingat kepada Sang Pencipta. Bahkan saat saya menawarkan minuman, ditolaknya dengan halus. “Saya puasa, Fan”, katanya. Saya lupa, sejak dulu ia memang rutin puasa Daud.

Saya mengantarkan mas Sandiaga Uno mengunjungi 4 tempat hari itu: bertemu tokoh dan tuan guru di Pesantren Nurul Hakim Kediri, meninjau pedagang di Pasar Gunung Sari yang rusak akibat gempa, melihat dan mendengarkan kondisi pengungsi gempa di Dusun Wadon – Lombok Barat, serta mengunjungi korban gempa di Sembalun – Lombok Timur.

Dari semua kunjungan itu saya dan tentunya masyarakat bisa melihat bagaimana mas Sandi bisa berbaur dengan masyarakat dari semua kalangan. Ia mudah saja untuk akrab dengan tokoh-tokoh agama, begitu juga seperti tak berjarak ketika turun langsung di masyarakat. Ia mendengarkan harapan dan keluhan masyarkat tanpa pernah menyela dan memotong pembicaraan. Jadi wajar saja jika ibu-ibu di pasar dan di pengungsian sangat antusias bercerita dan mencurahkan harapan kepada mas Sandi, seperti tentang harga-harga barang yang meningkat di pasar, namun turun drastis di petani. Soalan tentang kenaikan harga barang pokok ini memang menjadi prioritasnya dalam mempersiapkan menjadi pemimpin di negeri ini. Saya yakin, ia sebagai ahli ekonomi dapat menyelesaikan masalah harga barang ini.

Selama perjalanan juga, saya banyak berdiskusi tentang pengembangan pariwisata di NTB dan Indonesia, dan terutama juga terkait dengan mitigasi bencana. Ia menilai bahwa upaya mitigasi atau mencegah timbulnya korban dan kerusakan akibat bencana harus menjadi prioritas. Mitigasi dilakukan sejak dini, agar ketika terjadi bencana, jumlah korban dan kerugian bisa ditekan. Upaya mitigasi ini harus lebih dikuatkan di Perundang-undangan sampai pada aturan daerah, dan disosialisasikan ke masyarakat dan ke sekolah-sekolah.

Selain itu, ia juga menyampaikan harapannya agar pembangunan di NTB paska gempa bumi ini bisa lebih dipercepat, agar masyarakat tidak perlu berlama-lama di pengungsian. Kehidupan masyarakat harus kembali berjalan nomal, karena titik-titik yang terdampak gempa itu dapat mempengaruhi roda kehidupan di wilayah lain. Wilayah Sembalun misalnya, apabila dampak gempa tidak segera diatasi, bisa mempengaruhi kondisi di Kota Mataram dan daerah lain, karena Sembalun adalah daerah sumber utama penghasil sayuran di NTB. Untuk itu, semuanya harus bisa diatasi dengan cepat.

Sore hari, di bandara saat mas Sandi bersiap bertolak ke Jakarta ia memeluk dan mendokan saya agar sukses menghadapi perjuangan-perjuangan saya ke depan. Doa yang sangat berarti bagi saya dari seorang sahabat, yang juga saya anggap sebagai seorang guru. Doa yang saya harapkan juga menjadi doa kebaikan bagi dirinya dan keluarga.

Terima kasih, mas Sandi. Terima kasih telah mengunjungi dan memperhatikan warga Lombok, tanah kelahiran saya. Kunjungan singkat yang sangat berarti bagi saya dan tentunya warga Lombok. Sungguh, mas Sandi adalah inspirasi bagi banyak orang di NTB, yang tentunya juga berharap mas Sandi bisa menjadi pemimpin ke depan. Semoga Allah selalu memberkahi langkah mas Sandi.

Insya Allah. Amin yaa Robbal Aalamiin.

Taufan Rahmadi

Share